BAB IV 

MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN


A. PENGERTIAN MASYARAKAT

Image result for MASYARAKAT
Masyarakat adalah sekolompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau sebaliknya dimana kebanyakan interaksi yang terjadi pada individu yang terdapat dalam kelompok tersebut. Adapun pengertian masyarakat menurut parah ahli :
  • Menurut R.Linton seorang ahli antropologi mengemukakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial.
  • Menurut M.J Herskovits bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang di organisasikan dan mengikuti satu cara hidup teretentu.
  • Menurut J.L Gillin dan J.P Gillin bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang tersebar, yang memiliki tradisi mempunyai kebiasaan, sikap, dan persatuan yang sama.
Pada lingkungan nya masyarakat di golongkan menjadi 2 tipe yaitu masyarakat kota dan masyarakat desa. Dari masyarakat tersebut pasti mempunyai perbedaan yang menonjol, serta suatu kebiasaan yang berbeda dari setiap individu di lingkungan tersebut.

B.Masyarakat Pedesaan

  1. PENGERTIAN DESA/PEDESAAN
Yang dimaksud desa menurut Sutardjo Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut:
“ desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.”
Menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, social, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
Sedangkan menurut Paul h. Landis, desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:
  1. Di dalam masyarakat pedesaan memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.
  2. System kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (gemeinschaft atau paguyuban)
  3. Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part time) yag biasa mengisi waktu luang.
  4. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Masyarakat pedesaan identic dengan istilah ‘gotong-royong’ yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Kerja bakti itu ada dua macam:
  1. Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya di istilahkan dari bawah).
  2. Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya tidak dari inisiatif warga itu sendiriberasal dari luar (biasanya berasal dari atas).
  3. HAKIKAT DAN SIFAT MASYARAKAT PEDESAAN
Beberapa gejala-gejala social yang sering diistilahkan dengan:
  1. Konflik (pertengkaran)
  2. Kontraversi (pertentangan)
  3. Kompetisi (persiapan)
  4. Kegiatan pada masyarakat pedesaan
  5. SISTEM NILAI BUDAYA PETANI INDONESIA
Sistem nilai budaya petani Indonesia antara lain sebagai berikut:
  1. Para petani di Indonesia terutama di pulau jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri dengan bersembunnyi di dalam kebatinan atau dengan bertapa, bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik-baiknya dengan penuh usaha atau ikhtiar.
  2. Mereka beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadnag untuk mencapai kedudukannya.
  3. Mereka berorientasi pada masa ini (sekarang), kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang mampu untuk itu. Bahkan kadang-kadang ia rindu masa lampau mengenang kekayaan masa lampau menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa kekayaan bagi mereka).
  4. Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar peristiwa-peristiwa macam itu tidak berulang kembali.  Mereka cukup saja menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
  5. Dan unutk menghadapi alam mereka cukup dengan hidup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu tergantung kepada sesamanya.
  6. UNSUR-UNSUR DESA
Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaanya.
Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat.
Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa.
Ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan dan tidak berdiri sendiri.

  1. Sistem Kekerabatan Erat
Masyarakat desa memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Kehidupan mereka relatif berkelompok dan berlandaskan asas kekeluargaan. Kegiatan bertani sering dilakukan bersama-sama dan tidak berasaskan spesialisasi keahlian, yang penting dia punya tenaga dan fisik yang baik. Jika ada pembangunan fasilitas umum, masyarakat desa sering bergotong royong untuk menyelesaikannya seperti jembatan, mesjid, jalan dan rumah.  Dalam hal ini, Emile Durkeim menyebutnya sebagai solidaritas mekanik atua geminschaft yang artinya kelompok yang semua anggotanya saling terikat secara emosional.

2. Pola Kehidupan Diatur Kondisi Alam
Penduduk desa umumnya memiliki kegiatan sehari-hari seperti petani atau nelayan.  Artinya mereka sangat bergantung dengan kondisi alam seperti cuaca. Jika musim hujan tiba, maka masyarakat desa akan turun ke sawah untuk bercocok tanam sedangkan saat musim kemarau tiba mereka tidak pergi ke sawah namun mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan atau berdagang. Nelayan di pantai akan libur melaut jika cuaca buruk dan kembali melaut jika cuaca sudah membaik.

3. Mata pencaharian homogen
Masyarakat di desa secara umum memiliki jenis pekerjaan mayoritas homogen. Ada desa yang mayoritas petani, nelayan atau pengrajin. Hanya beberapa orang saja yang menekuni pekerjaan lain seperti berdagang atau menjadi guru dan lainnya.  

4. Terikat Adat Istiadat
Masyarakat desa umumnya yang masih tradisional masih sangat terikat oleh adat istiadat. Aturan adat sangat mengikat kehidupan setiap orang. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan penduduknya. Golongan orang tua atau sesepuhadalah orang penting yang sering dimintai nasihat bila ada kesulitan. Tokoh-tokoh adat sangat disegani dan semua kebijakan harus disetujui terlebih dahulu oleh kepala adat. Adat istiadat harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh setiap orang. Hal ini menjadi kearifan lokal tersendiri yang yang harus dilestarikan.

5. Pola Pikir Tradisional
Karena jauh dari modernisasi dan pendidikan memadai, maka pola pikir masyarakat desa cenderung masih tradisional atau kuno. Ada beberapa desa yang masih enggan menerima perubahan. Mereka menganggap perubahan dan modernitas hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan mereka yang sudah berlaku sejak zaman nenek moyang. 

C.Masyarakat Perkotaan

   Pengertian Kota
Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.
  • Wirth : Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
  • Max Weber : Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
  • Dwigth Sanderson : Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut  Kota, karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri:
  • Netral Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
  • Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.
  • Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
  • Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima  berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
  • Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.
b.      Ciri-ciri masyarakat Perkotaan 
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
  • Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
  • Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
  • Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  • Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
  • Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
  • Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
3.       Tipe Masyarakat
Masyarakat mempunyai tipe seperti berikut :
  1. Masyarakat kecil yang belum kompleks, yaitu masyarakat yang belum mengenal pembagian kerja, struktur, dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajarisebagai satu kesatuan.
  2. Masyarakat yang sudah kompleks, yaitu masyarakat yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang, karena ilmu pengetahuan sudah maju, teknologi maju, dan sudah mengenal tulisan.

D. PERBDAAN MASYARAKAT KOTA DENGAN MASYARAKAT DESA

Kedua tipe masyarakat tersebut pasti mempunyai perbedaan sebagai penunjuk ciri dari kedua tipe masyarakat tersebut. Adapun perbedaan nya adalah :.
Ciri ciri tersebut antara lain :
– Jumlah dan kepadatan penduduk
– mata pencaharian
– Pelapisan sosial
– mobilitas sosial
– lingkungan hidup
– pola interaktsi sosial yang dilakukan
– solidaritas sosial
– corak kehidupan sosial
– kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional

Ciri ciri tersebut yang menonjol di dalam masyarakt kota maupun desa. Masyarakat kota biasanya cenderung memiliki jumlah penduduk yang banyak di bandingkan oleh masyarakat pedesaan. Lingkungan hidup di pedasaan juga sangat berbeda jauh dengan lingkungan hidup yang ada di kota. Lingkungan di pedasaan masih sangat asri, udaranya bersih, tanah nya masih subur, dan cahaya matahari yang cukup. Berbeda dengan di perkotaan, lingkungan hidup nya sudah banyak tercemar oleh limbah limbah pabrik, penuh dengan polusi kendaraan, dan lahan lahan hijau sudah digantikan oleh bangunan bangunan pencakar langit, hal ini menyebabkan daerah resapan air berkurang dan akhirnya akan menimbulkan bencana alam.
Perbedaan yang paling menonjol juga terdapat pada mata pencaharian nya. Kegiatan penduduk desa berada di sektor agraris. Kehidupan ekonomi terutama tergantung pada usaha pengolahan tanah untuk keperluan pertanian, pertenakan. Sedangkan pada lingkungan perkotaan kegiatan ekonomi berada pada sektor industri dan perdagangan berupa barangan maupun jasa. Jadi intinya masyarakat pedesaan mengolah bahan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, sedangkan masyarakat perkotaan mengolah bahan bahan mentah yang berasal dari desa menjadi bahan setengah jadi atau mengolahnya sehingga berwujud bahan jadi yang dapat segera di konsumsikan.
Corak kehidupan sosial di desa juga dapat dikatakan masih homogen, sebaliknya di kehidupan di kota sudah heterogen. Karen di perkotaan saling bertemu antar agama, ras,bangsa dsb.
Dari segi profesi jumlah angkatan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap di pedesaan jauh lebih besar dari pada perkotaan. Sedangkan di perkotaan terdapat kesempatan kerja yang lebih luas baik di sektor formal maupun informal.
Masyrakat desa dan masyarakat kota pun saling memiliki hubungan yang erat bahkan bersifat saling ketergantungan karena di antara mereka saling membutuhkan. Masyarakat perkotaan tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warga nya akan bahan bahan pangan seperti beras, sayur, daging, dsb. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis jenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan, proyek pembangunan. Sebaliknya kota juga memproduksi barang barang yang dibutuhkan oleh orang orang desa seperti bahan bahan pakaian, alat dan obat obatan pebasmi hama pertanian serta alat transprotasi.


E.HUBUNGAN DESA DAN KOTA


Beberapa masyarakat desa biasanya mengadu nasib di Kota. Tersedianya lapangan kerja di kota lebih banyak daripada di desa,selain itu juga karena tuntutan kebutuhan untuk hidup. Banyak perusahaan-perusahaan, pabrik, serta  industri  di bangun dan tersebar di perkotaan. Hal ini berbanding terbalik dengan di daerah pedesaan. Sehingga tidak sedikit yang tergiur untuk mengadu nasib di kota dibandingkan di desa walaupun  tanpa memiliki keahlian apa-apa dan hanya bermodal nekad.

            Selain untuk mengadu nasib ,banyak orang desa yang ingin menyekolahkan anaknya di kota karena sekolah-sekolah di kota pastilah lebih baik dari pada didesa,serta fasilitas sekolah di kota lebih mendukung kegiatan belajar mengajar. Hubungan desa dan kota ini akan terus berlangsung karena bagaimana pun juga hal ini berikatan satu sama lain.Contoh lainnya desa mengirim sayur mayur ke kota,karena biasanya tanah di desa lebih subur dan suhu serta cuacanya mendung untuk bercocok tanam.

       Apabila dianalisis sebab-sebab pendorong masyarakat desa meninggalkan tempat
tinggalnya untuk menuju ke kota pada umumnya adalah sebagai berikut:
1.      Lapangan kerja di desa yang pada umumnya berkurang.
2.      Tertekannya pemuda desa terhadap adat-istiadat yang mengakibatkan cara hidup yang monoton.
3.      Tidak banyaknya kesempatan di desa untuk menambah pengetahuan. Oleh karena  itu banyak orang meninggalkan desa untuk maju.
4.      Perkembangan di desa yang sangat lambat serta reaksi yang penting di bidang spiritual yang kurang sekali dan belum tentu ada.
5.      Adanya keinginan ekspansi produksi bagi penduduk desa yang mempunyai keahlian lain yang belum tentu diperoleh di desa.




      Adapun manfaat dari adanya hubungan Desa – Kota
Dengan adanya hubungan desa – kota dapat memberikan beberapa manfaat bagi desa maupun bagi kota, diantaranya : 
1. Meningkatnya hubungan sosial ekonomi antara penduduk desa dan kota
2. Pengetahuan penduduk desa meningkat
3. Dapat menumbuhkan arti pentingnya pendidikan bagi penduduk desa
4. Dapat menumbuhkan heterogenitas mata pencarian penduduk desa
5. Terjadinya peningkatan pendapatan
6. Terpenuhinya berbagai kebutuhan penduduk baik di perkotaan maupun pedesaan 

      Karena hubungan desa dan kota sangat berkaitan dan berikatan hal ini mengakibatkan munculnya
      beberapa aspek,antara lain:
  1. Aspek Ekonomi, meliputi :
    • Melancarkan hubungan antara desa dengan kota
    • Meningkatkan volume perdagangan antara desa dengan kota
    • Meningkatkan pendapatan penduduk
    • Menimbulkan kawasan perdagangan
    • Menimbulkan perubahan orientasi ekonomi penduduk desa

  1. Aspek Sosial, meliputi :
    • Terjadinya mobilitas penduduk desa dan kota
    • Terjadinya saling ketergantungan antara desa dengan kota
    • Meningkatnya wawasan warga desa akibat terjalinnya pengaruh hubungan antara warga desa dengan warga kota 

  1. Aspek Budaya meliputi :
    • meningkatnya pendidikan di desa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sekolah dan siswanya yang bersekolah
    • Terjadinya perubahan tingkah laku masyarakat desa yang mendapatkan pengaruh dari masyarakat kota
    • Potensi sumber budaya yang terdapat di desa hingga melahirkan arus wisatawan masuk desa 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI KOMPUTASI DI BIDANG FISIKA